WIRANESIA.ID– Mungkin sebagian dari kita masih ingat, atau ada juga yang hafal detail sebuah foto legendaris. Foto itu adalah  saat Presiden Soeharto menandatangani perjanjian dengan Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) Michael Camdessus. Hari itu, 15 Januari 1998 adalah hari permulaan bencana bagi ekonomi Indonesia. Sebuah kesalahan besar dilakukan oleh sang presiden, yang tidak lama setelahnya terpaksa  keluar dari istana. Sudah tahu ekonomi Indonesia sedang buruk-burknya, setelah menerima gelontoran dana IMF itu semakin memburuklah ekonomi Indonesia.

Foto Camdessus menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatap Soeharto yang lagi menunduk itu menjadi legendaris dan hari ini masih saja diperbincangkan orang. Momen ini jadi dasar para pengkritik terutama para pengamat ekonomi untuk mengolok-ngolok sang presiden yang memimpin Indonesia tiga dekade itu.

Menurut para pengamat, Letter of Inten itulah penyebab kejatuhan ekonomi Indonesia. Seharusnya bantuan itu bisa meredakan krisis Indonesia dengan menyuntikkan modal ke bank-bank dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi. Tapi yang terjadi sebaliknya, ekonomi Indonesia babak belur karena jebakan utang. Serta subsidi untuk rakyat kecil harus ditarik. Akibatnya, Sang Raja harus turun takhta pada Mei 1998.

Nah, terkait dengan lembaga yang bertaut dengan rezim neolib global inilah, sejak beberapa hari ini Rezim Joko Widodo dicerca, dikritik habis-habisan oleh masyarakat luas. Seolah hendak meniru pendahulunya, Soeharto, Hari Senin 26/2/2018) kemarin bertandanglah Sang Bos IMF, seorang perempuan kelahiran Perancis, namanya cukup keren Christine Lagarde menemui Jokowi dan para bawahannya. Pada hari itu Jokowi langsung menyambutnya dengan antusias, beliau mengajak Lagarde jalan-jalan, gaya khas Jokowi dari dulu. Mereka meninjau Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Presiden Jokowi menjelaskan keberhasilannya dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

Setelahnya, Jokowi mengajak perempuan berambut putih ini ke Pasar Tanah Abang untuk menengok masyarakat kecil yang berjualan di sana. Di situ Jokowi membelikan baju koko khas Indonesia untuk sang suami Direktur Pelaksana IMF yang berumur 61 tahun ini.

Dalam kunjungannya ke Tanah Air, tak henti-hentinya Lagarde memuji Indonesia, terutama sektor ekonomi. Menurut Lagarde, pemerintah Indonesia mampu menciptakan kelas menegah yang dinamis.

 

Dikritik oleh Fadli Zon

Kedatangan direktur IMF ke Indonesia dikritik oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Menurutnya, pemerintah Indonesia terlalu berlebihan dalam menyambut Pimpinan Lembaga Global yang berbasis di Washington DC itu. Padahal, kata Fadli IMF-lah yang menjadi dalang dari krisis ekonomi dan politik Indonesia yang terjadi pada tahun 1998.

“IMF ini kok dibuat seperti kedatangan raja. Padahal IMF ini institusi yang menghancurkan Negara kita 20 tahun yang lalu,” kata Fadli, Selasa (27/2) seperti dikutip dari Kumparan.com.

Untuk diketahui pada bulan Oktober 2018 nanti Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan (Annual Meeting)  IMF dan Bank Dunia, tepatnya di Provinsi Bali. (Darwin)