Chaidir Sebut Perencanaan yang Tidak Matang Sebagai Penghambat Pembangunan

Dari kiri Syukri Ilham (moderator), Falzan Surahman, Chaidir, Zulfan Heri, dan Rayan Pribadi

WIRANESIA.ID– Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, terletak di jalur strategis, yakni berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Sebuah selat yang menjadi lalu-lalang kapal internasional. Jadi, kabupaten termuda di Riau ini sebenarnya mempunyai potensi untuk maju. Namun, penghambat dari kemajuan itu ada pada perencanaan yang tidak matang (setengah-setengah).

Demikian diungkapkan Dr. Chaidir MM, Mantan Ketua DPRD Riau dua periode pada acara talkshow yang ditaja oleh Ikatan Pemuda Mahasiswa Kecamatan Rangsang, Kepulauan Meranti, di kampus Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Ahad (16/12/2018) pagi.

Lebih lanjut, tokoh Riau ini memaparkan, selama ini perencanaan pembangunan itu selalu diserahkan kepada Bappeda dan DPRD. Menurut Chaidir, konsep perencanaan model beginilah yang menghambat pembangunan daerah.

“Perencanaan diserahkan kepada BAPPEDA dan DPRD, padahal anggota dewan itu banyak yang terpilih karena popularitas bukan kapasitas,” ujar Chaidir.

Chaidir mempunyai solusi terkait perencanaan pembangunan daerah ini, tokoh yang mencalonkan diri sebagai senator atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dapil Riau di Pemilu 2019 ini menekankan pentingnya para konsultan luar untuk menyusun sebuah rencana strategis pembangunan.

“Kelemahan kita (selama ini) tak mau mengeluarkan biaya untuk perencanaan yang bagus,” ujar Chaidir yang tampil memakai kemeja putih itu.

Selain Chaidir, pembicara lain yang membahas refleksi 10 tahun pemekaran Kabupaten Kepulauan Meranti ini adalah Direktur Eksekutif ISDP, Zulfan Heri S.Ip, MSi, Ketua KPID Riau Falzan Surahman, serta Rayan Pribadi selaku Ketua Karang Taruna Kabupaten Meranti.

Zulfan Heri, dalam diskusi yang dihadiri tokoh Meranti dan para mahasiswa ini juga membahas hal-ihwal 10 tahun perjalanan Kabupaten Meranti dengan kritikan dan refleksinya.

Zulfan Heri sedang mengambil sirih dari tepak yang disodorkan para penari Tari Persembahan sebelum diskusi

Zulfan yang juga mantan anggota DPRD Riau dua periode ini menyayangkan para pejabat yang tidak peka dengan keadaan masyarakat di Kepulauan Meranti. Padahal, banyak sekali masalah di Kepulauan Meranti, seperti kemiskinan, infrastruktur, pendidikan, juga kesehatan. Lebih lanjut Zulfan bercerita, saking tak pekanya para pejabat, bahkan ada salah satu kantor camat di Meranti yang tak selesai-selesai pembangunannya.

Zulfan juga mengatakan, yang lain permasalahan Meranti adalah infrastruktur jalan yang sangat tidak layak. “Padahal, jalan ini adalah urat nadi penting bagi mobilitas warga, jadi, kalau mau maju, ya tuntaskan jalannya,” tutur Zulfan dengan suara keras khasnya.

Zulfan juga sangat menekankan yang namanya sumber daya manusia, khususnya bidang pendidikan dan kesehatan. Jadi, lanjut tokoh asal Bengkalis ini, daerah tidak bisa hanya bersandar pada hasil alam saja, harus diperhatikan pula infrastruktur dasar masyarakat.

Sementara dua pembicara lain, Falzan Surahman dan Rayan Pribadi lebih banyak mengulas  proses terbentuknya Kabupaten Kepulauan Meranti. Mereka mengklaim terlibat sejak awal dalam proses lahirnya kabupaten yang mekar dari Bengkalis ini. Bahkan menurut mereka berdua, mereka terlibat langsung dalam urusan lobi ke DPRD Riau.

Diskusi yang ditaja mahasiswa Kecamatan Rangsang ini akhirnya ditutup ketika azan Zuhur berkumandang, lalu sesi diskusi diakhiri dengan foto bersama. ***