Meski Mengalami Penurunan, DBD di Sumsel Memakan Korban

Ilustrasi dari Antara Foto

WIRANESIA.ID- Demam berdarah dengue (DBD) melanda beberapa daerah di Indonesia sejak awal tahun 2019. Salah satu daerah yang terpapar DBD adalah Provinsi Sumatera Selatan. Bahkan di daerah Desa Meranjat I, Kecamatan Indralaya Selatan, Ogan Ilir, satu orang meninggal atas nama Tio (18) pada 10 Februari 2019 lalu. Di Ogan Ilir ini dalam catatan, ada 27 kasus di bulan Februari. Demikian seperti dikutip dari Sumatera Ekspress.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Dra. Hj. Lesty Nurainy Apt M.Kes dinukilkan dari Sumatera Ekspress menjelaskan, korban DBD di provinsi yang terkenal dengan Sungai Musinya ini memang mengalami penurunan walau memakan korban meninggal dunia sebanyak 6 orang.

“Januari ada 668 kasus. Februari hanya 246 kasus,” katanya.

Di Sumatera Selatan, meski mengalami penurunan, masih banyak korban demam berdarah. Di antaranya korban yang dirawat di RSUD Kayu Agung (OKI) berjumlah 6 orang anak. Di Kabupaten Empat Lawang korban tercatat berjumlah 9 warga. Di RSUD Talang Ubi, Pali, sepanjang Februari 108 orang dirawat. Muara Enim di bulan Februari ada 23 penderita.

Semenatara untuk Kota Palembang tercatat ada 83 kasus per 25 Februari.

Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda dikutip dari Sumatera Ekspress, mengatakan, “Alhamdulillah tak ada yang meninggal. Secara jumlah ini lebih rendah dibanding Januari yang mencapai 152 kasus,” tuturnya.

26 Ribu Korban Seluruh Indonesia dan Dampak Bagi Ekonomi Negara

Wabah penyakit menular DBD melanda beberapa daerah di Indonesia sejak awal Januari. Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan hingga23 Februari seperti dikutip dari Harian Kompas 26/2/2019, tercatat 26.129 kasus seluruh Indonesia. Dimana korban meninggal sebanyak 226 orang.

Dari data hingga akhir Januari, daerah paling parah dilanda penyakit yang ditularkan nyamuk aedes aegypti adalah Provinsi Jawa Timur dengan jumlah kematian sebanyak 47 orang, disusul NTT 14 orang, Sulawesi Utara 13 orang, dan Jawa Barat 11 orang.

Sebagai pelengkap, demam berdarah juga membebani ekonomi negara. Tahun 2015 lalu, misalnya, beban ekonomi negara akibat DBD mencapai 5,3 triliun rupiah dengan jumlah kasus 129.650 pasien DBD dan 1.071 korban jiwa (Riset Mardiati Nadjib dkk di Jurnal PLOS Neglected Tropical Disease, 10 Januari 2019), seperti diberitakan Harian Kompas edisi 26/2/2019. ***