Dumai Diincar Para Capres, Ada Apa?

Dumai Diincar Para Capres, Ada Apa?
Oleh Zulfan Heri

AGAK aneh, Kota Dumai jadi rebutan para Calon Presiden yang bertarung di Pemilu 2019. Sebelum Jokowi kampanye terbuka di kota Dumai, Calon Wakil Presiden 02 Sandi telah duluan hadir di kampanye terbuka di Kota Dumai.

Entah mengapa mereka rebutan di kota minyak ini? Yang jelas jika dilihat dari jumlah pemilih, kota ini sangat kecil jumlahnya jika dibanding Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Siak, Indragiri Hulu, Pekanbaru, Kampar, dan Indragiri Hilir. Jumlah DPT di kota Dumai di bawah 200.000.

Memang secara geografis, Kota Dumai letaknya sangat strategis, berhadapan langsung dengan Semenanjung Malaysia (jalur laut Selat Malaka). Apakah karena faktor ini? Atau ada faktor lain yg dilihat dari sisi potensi dan aset nasional yang cukup banyak beroperasi di daerah ini. Termasuk perusahaan lokal, nasional dan internasional (asing) ada di sini yang bergerak di bidang pertambangan, migas, perkebunan, CPO, pelabuhan internasional CPO untuk dunia, dan lain sebagainya.

Penulis heran, secara kuantitatif tak berkorelasi kuat dengan jumlah pemilih yang ada di Kota Dumai dengan kehadiran Calon Presiden 01 dan Calon Wakil Presiden 02 menggelar kampanye terbuka di Kota Dumai. Tapi menurut hemat penulis lagi selain berkampanye, juga untuk meyakinkan pelaku ekonomi besar (investor) kelas kakap yang lagi berinvestasi bahwa wilayah Dumai aman untuk bisnis.

Timpal-menimpal wilayah kampanye pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf dengan pasangan 02 Prabowo-Sandi tidak bisa dihindari. Agak berbau militer strategi yang diterapkan kalau boleh menduga. Tapi begitulah strategi yang diterapkan untuk menang. Apa pun cara yang dipakai asal menang.

Pilpres bukan lagi pertarungan paslon dan antar pendukung, tetapi juga sudah menjadi pertarungan strategi dan para mantan jenderal yang bergabung di masing-masing “kubu”. Lebih populer disebut “perang bintang”.

Kembali soal Kota Dumai yang jadi “rebutan” tempat kampanye. Walikota Zul As memang pengurus inti Partai Nasdem di Riau, sudah punya kewajiban memenangkan paslon no 01. Hal itu diperkuat dengan kehadiran Gubernur Riau, Syamsuar dalam kampanye memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

Kedatangan Sandi maupun Jokowi disambut sebagai adu kekuatan massa pendukung saja. Tapi sayang, kampanye tidak sensitif soal kebutuhan dan permasalahan arus bawah yang hari ini mendera masyarakat Kota Dumai, misalkan soal air bersih, pencemaran lingkungan dan laut, banjir, upah buruh, serta komitmen perusahaan terhadap rakyat sekitar terkait soal sulitnya bekerja di perusahaan yang ada di Dumai bagi anak-anak tempatan, ditambah lagi program CSR yang tak jelas dan tidak tepat sasaran, serta bagi hasil yang tidak adil dan profesional terkait pengelolaan pelabuhan dan laut oleh Pelindo selama ini.

Jangan beban sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan selalu ditanggung dampaknya oleh masyarakat Kota Dumai puluhan tahun, sedangkan hasil kekayaannya semuanya ditenteng ke Jakarta.

Mestinya isu-isu di atas yang mendapat respons serius dari pasangan calon presiden yang hadir di kota Dumai. Ada harapan, ada komitmen dan perubahan kelak jika terpilih. Ini yang kita tunggu.

Jadi, kampanye bukan saja berebut wilayah, adu kekuatan massa di lapangan, saling timpal, akan tetapi juga mampu berebut isu isu besar dalam kampanyenya. Inilah yang tak terdengar dalam kampanye-kampanye calon presiden di Kota Dumai —jika Dumai menjadi barometer dan representasi politik Riau— dalam pilpres kali ini.

Kondisi dan permasalahan kota Dumai saat ini sangat memerlukan perhatian pemerintah pusat, termasuk calon presiden dan wakil presiden dari 01 dan 02. Sederet permasalahan yang ada tak bisa dikerjakan sendiri, memerlukan kebijakan politik yang kuat untuk kota Dumai berubah. Lagi-lagi dukungan politik pemerintah pusat menjadi penting dan utama. Semoga. ***

Penulis, Zulfan Heri
Direktur Eksekutif ISDP; Inisiator terbitnya buku “Pilkada dan Demokrasi Arus Bawah” (Dokumentasi Politik Terpilihnya Zul As – Sunaryo Pada Pilkada Kota Dumai 2005-2010) terbitan ISDP tahun 2006.