Luhut Dikritik Walhi Terkait Isu Lingkungan

Luhut Binsar Panjaitan

WIRANESIA.ID- Isu lingkungan adalah isu yang menarik semasa rezim Joko Widodo. Salah satunya rencana akan dihapusnya pemakaian bahan bakar bebasis kelapa sawit oleh Uni Eropa hingga tahun 2030 nanti dengan alasan kelapa sawit telah menyebabkan perusakan hutan secara besar-besaran.

Padahal, posisi Uni Eropa sangat strategis karena menurut data Tempo.co, mereka adalah pasar ekspor nomor dua bagi kelapa sawit Indonesia setelah India.

Terkait hal ini beberapa waktu lalu, Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengancam untuk memboikot produk Uni Eropa. Ancaman lainnya dari Luhut adalah Pemerintah Indonesia akan keluar dari Kesepakatan Perjanjian Iklim Paris.

Ancaman Luhut ini langsung dikritik oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Menurut perwakilan Walhi pusat, Yuyun Harmono, seperti dilansir CNNIndonesia.com, sikap Luhut disamakannya dengan Presiden Donald Trump yang membela korporasi perusak lingkungan dari pada mengikuti Perjanjian Paris.

“Kalau kita sampai keluar, ya kita menyamakan level [Luhut] dengan Trump. Kalau Trump keluar dari Paris Aggrement karena membela industri batu bara, kalau Luhut ya membela besar-besaran sawit,” kata Yuyun di Kantor Walhi, Jakarta, Jumat (29/3/2019) dinukil CNNIndoesia.com.

Manajer Kampanye dan Keadilan Walhi ini juga mengkritik Luhut yang lebih membela korporasi ketimbang membela masyarakat pesisir Indonesia yang terdampak rusaknya lingkungan.

“Nah menteri bidang kemaritiman tak pernah bisa bicara perubahan iklim terhadap masyarakat pesisir, tak pernah dia urus, padahal dia Menko Maritim. Yang dia sering lakukan adalah lobi untuk kepentingan kelapa sawit,” lanjut Yuyun lagi.

Pembalakan Liar
Masih terkait isu lingkungan, dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, kemarin Jumat (29/3), seperti dilaporkan Kompas.id, isu pembalakan liar yang terjadi di Papua, Kalimantan, dan Sumatera sama saekali tak dibahas.

Padahal, pertemuan penting kemarin bertajuk, Perjanjian Kemitraan Sukarela-Penegakan Hukum, Tata Kelola Perdagangan bidang Kehutanan (FLEGT-VPA) antara Indonesia dan Inggris Raya. Sebuah pertemuan mengantisipasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Dari laporan Kompas.id, FLEGT-VPA sejak tahun 2016 diberlakukan bagi produk-produk kayu asal Indonesia yang dikirim ke negara-negara Uni Eropa. Sejak tahun 2013, nilai perdagangan kayu Indonesia ke Uni Eropa meningkat dari 0,59 miliar dollar AS (2013) menjadi 1,1 miliar dollar AS (2018). Inggris merupakan negara terpenting tujuan ekspor kayu di Uni Eropa karena menyerap 25,5 persen dari total nilai perdagangan ke Uni Eropa yaitu mencapai 132 juta dollar AS (2013) menjadi 275 juta dollar AS (2018). ***