Pengacara Bowo: Uang dalam Amplop Itu Diduga dari Salah Satu Menteri Jokowi

Kompas
Pengacara Bowo Sidik, Saut Edward Rajagugguk. Foto: Kompas.com

WIRANESIA.ID- Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Marketing Manajer PT Humpuss dan orang kepercayaan Bowo Sidik, Indung, semakin menguak tabir misteri. Bak bola salju, ia menggelinding dan menabrak. Banyak yang terungkap meskipun itu baru dugaan.

Belum lepas dari ingatan, di mana kemarin, (9/4/2019), usai diperiksa KPK, tersangka Bowo Sidik mengungkap bahwa, ia diperintah Nusron Wahid untuk menyiapkan sejumlah uang.

Nusron Wahid adalah politisi Golkar sekaligus Ketua Pemenangan Pemilu Wilayah Jateng I yang menggantikan Bowo Sidik. Mereka berdua sama-sama caleg Golkar di dapil Jateng II.

“Pak Nusron Wahid meminta saya untuk menyiapkan 400.000 (amplop),” kata Bowo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (9/4/).

Tidak berhenti sampai di situ, kali ini pengacara Bowo Sidik, Saut Edward Rajagukguk, blak-blakan di hadapan wartawan terkait amplop yang jadi barang bukti KPK. Menurut Saut Edward, uang dalam 400 ribu amplop itu diduga berasal dari salah satu Menteri Kabinet Kerja Jokowi.

“Sumber uang yang memenuhi Rp. 8 miliar yang ada di amplop tersebut sudah dari salah satu menteri di kabinet ini, “ kata Saut setelah diperiksa KPK Rabu (10/4), dinukil Antaranews.

Namun tidak diperinci, siapa sang menteri tersebut. Apakah ia masuk tim TKN Jokowi-Ma’ruf, juga tidak dijelaskan oleh Saut.

Partai Golkar sebagai pengusung Bowo Sidik sebagai caleg DPR-RI telah memecat langsung tersangka anggota DPR-RI Komisi VI, Bowo Sidik.

Bantahan-bantahan terus dilakukan oleh kader Golkar, di antaranya Nusron Wahid sendiri. Yang lain, Wasekjen Golkar, Dave Laksono juga ikut membantah, di mana secara institusi Golkar tidak memerintahkan kadernya untuk melakukan politik uang.

“Tidak ada perintah atau kebijakan dari Partai Golkar untuk melakukan money politics. Partai Golkar selalu mendukung demokrasi yang sehat, sehingga kita melarang seluruh elemen parpol, kader untuk melakukan money politics,” katanya, Rabu (10/4), dikutip dari Sinarharapan.co. ***