Warga Desa Mayang Sari di Pelalawan Rayakan Hari Kartini dengan Antusias

WIRANESIA.ID- Masyarakat Desa Mayang Sari, Kecamatan Pangkalan Lesung, Pelalawan, bergembira merayakan Hari Lahir pejuang kaum perempuan RA Kartini di kantor desa setempat, Ahad (28/4/2019).

Menurut Susi Susanti, Direktur Badan Usaha Desa (Bumdes) Desa Mayang Sari, masyarakat sangat antusias mengikuti perayaan. Beragam acara dihelat, seperti lomba makan kerupuk, permainan kelereng dalam sendok, cerdas cermat.

Acara lain adalah berpantun yang dikomandoi oleh Ibu Isal, tarian Melayu, menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini”, dan ragam acara lainnya.

“Saya sangat senang mengikuti acara ini. Sangat seru,” kata L. Selfi, salah satu warga kepada Wiranesia lewat pesan singkat.

Warga lain Halima juga menyatakan kegembiraannya mengikuti acara Kartini ini.

“Saya gembira sekali, sukses acaranya, untuk mengenang Ibu Kartini,” ujar Halima.

Dalam perayaan Hari Kartini di Mayang Sari, ibu-ibu tanpa terkecuali memakai baju kebaya. Mereka sangat kompak dan bersemangat demi mengenang pahlawan nasional dari Jepara itu.

Hadir dalam perayaan kali ini perwakilan Camat Pangkalan Lesung, Bapak Rusli.

Ibu Kita Kartini Pejuang Kaum Perempuan yang Suka Menulis
Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, pada 21 April 1879. Ia anak Bupati Jepara RM Adipati Ario Sosroningrat. Kartini hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah rendah ELS, atau zaman sekarang disebut SD.

Pada usia 12 tahun, Kartini harus dipingit di rumah, sesuai dengan adat-kebiasaan di zaman itu. Dan pada akhirnya ia terpaksa menikah dengan Bupati Rembang, RM Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat.

Kartini terkenal karena kerisauannya melihat kaum perempuan yang tidak bisa mengenyam pendidikan seperti laki-laki. Ketika dipingit ia menulis surat kepada temannya Rosa Abendanon dan Stella Zoehandelaar di Belanda. Ia banyak mencurahkan pikirannya tentang kondisi pribumi di zaman penjajahan itu.

Surat-surat hasil korespondensi dengan temannya di Eropa yang berjumlah 115 pucuk ini akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Kartini wafat dalam usia masih muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anaknya, Soesalit Djojodhiningrat. (Darwin) ***