Lafran Pane, Kesederhanaan Hidup, dan “Penculikan” Bung Karno

Lafran akar
Lafran Pane, salah satu Pahlawan Nasional. Foto: Akarpadinews.com

WIRANESIA.ID- Bisa jadi banyak yang tak mengenal sosok yang satu ini sebelum ia dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2017 lalu. Namun, tentu saja ia begitu tenar di kalangan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)—organisasi yang didirikannya—, juga di kalangan aktivis mahasiswa seantero negeri lainnya.

Popularitas bukanlah tujuan seorang Lafran. Ia mendirikan organisasi mahasiswa terbesar, HMI, demi membina para mahasiswa dan umat Islam secara keseluruhan. Ia menginginkan terpacaknya sebuah peradaban Islam nan unggul. Dan tentu saja di dalam komunitas Islam itu ada Negara di dalamnya.

Pada saat HMI berdiri tahun 1947, umur Negara Indonesia baru dua tahun. Nasionalisme seorang Lafran muncul dalam konteks ini. Negara harus dipertahankan dan umat Islam harus dibina demi tegaknya peradaban.

Lafran Pane, lahir 5 Februari 1922 di Sipirok, Tapanuli Selatan dan wafat 25 Januari 1991. Ayahnya adalah seorang jurnalis sekaligus seniman, nama ayahnya Sutan Pangurabaan Pane. Dari sosok ayah yang berlatar belakang seperti inilah lahir Lafran, Sanusi, dan Armijn.

Dua orang kakaknya: Sanusi Pane dan Armijn Pane jauh lebih populer dibanding dirinya. Dua orang yang selalu disebut ketika bicara sastra. Karya-karya mereka dibaca dan dibincangkan. Armijn Pane sebagai misal, mengarang novel “Belenggu”, sedang Sanusi Pane menulis banyak sekali karya sastra, juga drama, dan terlibat dalam Polemik Kebudayaan yang terkenal itu.

Lalu, apa kontribusi Lafran Pane buat bangsa? Sederhana saja, organisasi yang didirikannya, HMI maksudnya, disebut-disebut mencetak banyak tokoh bangsa. Sebagai contoh, ada Nurcholish Madjid, Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, hingga Anies Baswedan, untuk menyebut sedikit nama. Alumni HMI pun bertebaran di berbagai bidang profesi, mulai dari dunia politik hingga penyair, ada yang mengadvokasi masyarakat di bidang hukum, ada pula di pertanian, lingkungan, dan lainnya.

Lafran
Peluncuran novel biografi yang terinspirasi dari hidup Lafran Pane “Merdeka Sejak Hati” karangan Ahmad Fuadi, di Perpusnas, Jakarta, 28/7/2019. Foto: Kompas.com

Hingga hari ini HMI warisan Lafran Pane itu tetap eksis. Ia tetap tumbuh-kembang bahkan di era milenial. HMI terus hadir menyemai nilai-nilai kebaikan dan terus mencetak para tokoh bangsa.

Menolak Bergabung dengan Partai
Lafran Pane disebut-sebut pula dalam beberapa literatur, ia tak mempunyai rumah hingga meninggal. Ia juga selalu menolak tawaran-tawaran politik dengan posisi strategis nan menggiurkan. Ini sejalan dengan independensi HMI yang ia dirikan.

Dalam peluncuran novel biografi Lafran karya novelis Ahmad Fuadi, di Perpusnas Jakarta akhir Juli 2019 lalu, tokoh senior HMI, Akbar Tandjung bercerita tentang kesederhaanan Lafran.

Kata Akbar seperti dikutip Kompas.com., setelah mendirikan HMI, Lafran diajak bergabung dengan Partai Islam Masyumi, namun ia menolak.

“Beliau menyatakan tidak ingin bergabung dengan organisasi politik. Beliau ingin menjadikan HMI sebagai organisasi mahasiswa yang independen, tidak berafiliasi dengan kekuatan politik, tidak berafiliasi dengan partai politik,” kata Akbar.

Dalam kesempatan lainnya, Akbar juga bercerita (lihat berita dengan judul “Cerita tentang Lafran Pane, Pendiri HMI yang Ikut ‘Culik’ Bung Karno”, Detik.com, tanggal terbit 10/11/2017), bahwa Lafran Pane juga ikut di antara pemuda yang “menculik” Bung Karno untuk dibawa ke Rengasdengklok jelang kemerdekaan tahun 1945. Namun, tentu saja sejarah keterlibatan Lafran ini tak populer. Orang hanya mengenal sosok-sosok seperti Wikana, Chaerul Saleh, Achmad Subardjo, Soekarni, bahkan DN Aidit di balik “penculikan” 16 Agustus itu.

Itu saja sekilas tentang sosok Profesor Lafran Pane, salah satu pahlawan kita. Warisannya berupa organisasi mahasiswa, HMI, abadi hingga kini. Merdeka! (Darwin)***