Konsisten Gelar Turnamen Sepak Bola, Desa Mekong Disematkan Tiga Tagline

Mekong Balihoo
Baliho dengan tagline "Mekong Mendunia" di Stadion Purnama, Mekong, Kepulauan Meranti. Foto-foto: Wiranesia

WIRANESIA.ID- Konsisten menggelar turnamen sepak bola, Desa Mekong, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti, Riau, disematkan tiga tagline. Gelar itu dinilai tepat diberikan ke desa yang terletak di depan Selat Melaka itu.

Hal itu diungkapkan mantan anggota DPRD Riau, Zulfan Heri, saat menghadiri pembukaan Turnamen Mekong Cup, di Stadion Purnama Tebingtinggi Barat, Minggu (18/8/2019).

Kata Zulfan Heri, tidak berlebihan rasanya jika ia menyematkan tiga tagline untuk Desa Mekong. Di antaranya, “Mekong Kampung Bola”, “Mekong Menghibur Rakyat”, dan “Mekong Mendunia”.

Mekong Kampung Bola, dibuktikan dengan konsistensi Kepala Desa Mekong A. Rahman S menggelar turnamen sepak bola. Tak tanggung-tanggung, untuk sekelas desa, Mekong telah membuat pesta olahraga itu selama 26 tahun berturun-turut, tanpa jeda. Tak semua desa mampu menyaingi apa yang telah dibuat di Mekong itu.

“Hanya di Mekong saya menjumpai Kades yang begitu cinta olahraga sepak bola. Bahkan, sebelum beliau jadi kades, turnamen sudah dilaksanakan. Dan itu berjalan dengan baik,” kata Zulfan Heri.

Tagline kedua yang disematkan yaitu Mekong Menghibur Rakyat. Ditambahkan Zulfan Heri, di daerah mana pun, sangat banyak orang menyukai sepak bola. Namun, tak banyak yang mau berkorban untuk mengadakan perhelatan olahraga sebagaimana dilaksanakan di Desa Mekong. “Sama-sama kita rasakan, dengan adanya sepak bola, kita terhibur. Itulah yang dirasakan ribuan masyarakat setiap tahunnya, saat berlangsung Mekong Cup,” ujar Zulfan Heri.

Tagline terakhir yaitu Mekong Mendunia. Dimana, iven kecil yang dilaksanakan sekelas desa, bisa bertahan dan berkembang dari tahun ke tahun. Turnamen sekelas desa ini pernah diikuti hingga 120 klub dan dilaksanakan lebih 3 bulan. Bahkan, pihak tuan rumah, Desa Mekong, mengambil pemain dari luar negeri, Nigeria. “Desa mana yang bisa melakukan seperti ini. Di lapangan ini, pemain dari luar negeri pernah bermain di sini. Memang kelas desa, tapi tak bisa dipandang sebelah mata. Ini bukti Mekong Mendunia,” tegas Zulfan Heri.

Zulfan Heri sendiri, telah menjadi sponsor Mekong Cup sejak tahun 2004 silam. Waktu itu, dia menyumbangkan uang sebesar Rp500 ribu dan hingga sekarang (2019-red) Zulfan Heri menyiapkan puluhan juta rupiah sebagai hadiah pemenang Mekong Cup.

“Mulai saya belum jadi dewan, jadi dewan, sampai sudah tidak dewan pun saya masih cinta sama Mekong. Saya senang menjadi sponsor di sini. Bahkan, teman saya, Bupati Inhu Yopi Arianto pun sudah beberapa kali menjadi sponsor,” beber Zulfan Heri.

Mekong nendang
Zulfan Heri (depan kedua kanan) menendang bola pada pembukaan Turnamen Mekong Cup, Desa Mekong, Kepulauan Meranti

Ditanggapi Sekda Kepulauan Meranti, Yulian Norwis, bagi pecinta olahraga, memang tidak pernah memikirkan berapa besar biaya yang dikeluarkan. Ia mengucapkan terima kasih ke Zulfan Heri yang sudah konsisten membina olahraga terutama sepak bola di Desa Mekong. “Terima kasih karena selama ini telah berbuat banyak. Ke depan, kami harap KONI melalui PSSI memerhatikan Mekong Cup,” ujar Yulian Norwis.

Yulian Norwis mengaku sudah sangat familiar dengan Desa Mekong. Sejak pertama mengabdi di Kepulauan Meranti, ia sering mendengar cerita iven olahraga yang rutin dilaksanakan. Meski kelas desa, Yulian Norwis meminta semua pihak berbuat yang terbaik. Pihak desa diminta konsisten melakukan pembinaan dengan cara menyiapkan ruang bagi atlet-atlet terbaik untuk unjuk kebolehan. Sedangkan untuk atlet, dipesankan agar senantiasi menjaga sportivitas, menjaga persahabatan dan silaturrahmi. “Ini ajang untuk mengadu kebolehan. Bermainlah dengan baik, jaga sportivitas dan silaturrahmi,” pesan Yulian Norwis.

Kades Mekong A. Rahman S yang juga merupakan pelaksana Mekong Cup mengucapkan terima kasih pada banyak pihak yang telah ikut menyukseskan Mekong Cup. Kata A. Rahman, ia sangat cinta olahraga sepak bola dan ingin para pemain bisa menyalurkan bakat di lapangan hijau. Untuk itu, turnamen sepak bola dilaksanakan sejak tahun 1993. Dimana, saat itu Desa Mekong masih merupakan sebuah dusun dari Desa Alai. “Turnamen pertama saya gelar saat berusia 24 tahun. Waktu itu Mekong belum menjadi sebuah desa. Alhamdulillah, sampai sekarang (2019-red) masih bisa kita gelar,” kata A. Rahman S. (Laporan panitia/Ijat Mekong). ***