Ekologi, Ekosistem, dan Strategi Hidup Manusia Menuju Pengelolaan SDA dan Industrialisasi yang Berkelanjutan

Vegetas 1
Ilustrasi vegetasi makhluk hidup. Foto: Rimbakita.com

Ekologi dan Ekosistem
MERUJUK literatur yang ada, Ekologi adalah ilmu tentang ruma htangga makhluk hidup (oikos= rumah tangga), maksudnya adalah ilmu tentang hubungan timbal-balik (resiprocal) antara makhluk hidup dengan sesamanya dan dengan benda-benda mati di sekitarnya. Ekonomi juga berasal dari kata yang sama dengan “makna” yang sedikit berbeda, yakni tentang bagaimana pengelolaan rumah tangga. Tetapi yang dipentingkan (aspek utama) oleh ekonomi bukan ruma htangga makhluk hidup, melainkan rumah tangga manusia.

Manusia adalah makhluk hidup yang secara fisik mempunyai berbagai kelemahan dan kekurangan, tapi secara fisiologi mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Kelemahan dan kekurangan itu antara lain dalam ketidakmampuan untuk berenang seperti katak, terbang seperti burung, melompat seperti tupai, dan berlari kencang seperti harimau. Kelebihannya adalah kemajuannya dalam noosistem, yakni cara atau sistem berpikir, dengan mana kebudayaan manusia berkembang. Awal mula manusia berkembang dengan sederhana, kemudian melalui berburu dan pertanian, selanjutnya industri, dan sekarang menginjak masa pasca industri, sehingga makin berkembanglah kebudayaan dan penguasaan manusia atas ekosistem.

Namun, saat ini kita berada pada kondisi “masa pahit” di mana kemajuan yang dicapai telah menimbulkan dampak dan berbagai krisis terhadap lingkungan hidup karena tercemarnya ekosistem sehingga menyebabkan merosotnya kualitas lingkungan hidup kita saat ini, dan bisa jadi merupakan masalah utama di masa depan yang perlu menjadi perhatian serius setiap individu.

Secara hipotetik kita juga dapat mengatakan, bahwa seandainya di bumi hanya ada manusia, dan tidak ada kehidupan lain, khusunya vegetasi yang menopangnya, maka dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama bumi juga akan gersang dan kering, dengan kadar CO₂ sebesar 98%, N₂ sebesar 1,9%, dan O₂ “nyaris” tidak ada, serta kondisi suhu ±250° C. Jadi, dengan kata lain, tanpa vegetasi maka dunia (bumi) akan gersang dan tidak mungkin ada kehidupan lagi.

Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar untuk memertanyakan dan menyelidiki bagaimana alam bekerja; bagaimana keberadaan makhluk hidup dalam sistem kehidupan? apa yang mereka perlukan dan habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupan? bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya? bagaimana dengan melakukan semuanya itu mereka berinteraksi dengan komponen lain dan dengan spesies lain? bagaimana individu-individu dalam spesies itu beradaptasi? bagaimana makhluk hidup itu menghadapi keterbatasan dan harus toleran terhadap berbagai perubahan? Bagaimana individu dalam spesies itu mengalami pertumbuhan sebagai bagian populasi atau komunitas?. Semuanya ini berlangsung dalam suatu tahapan (proses) yang mengikuti tatanan, prinsip, dan ketentuan alam yang rumit, tetapi dengan ekologi kita belajar untuk memahaminya.

Kenyataannya, hingga saat ini, kepentingan berbagai sektor yang memanfaatkan ruang dan tanah (lingkungan hidup) sering kali masih bersifat sektoral, partial, dan bergantung pada tingkat keputusan daerah masing-masing. Sehingga masing-masing sektor dan daerah memanfaatkan ruang dan tanah sesuai dengan target sektornya, tanpa mengaitkannya dengan kegiatan yang dilakukan sektor lain dan dalam kerangka lingkup pembangunan daerah serta secara kesatuan tatanan lingkungan hidup.

Lingkungan hidup dengan segala masalahnya harus kita lihat secara utuh (holistik), kalau hal ini dilakukan, maka segala sesuatunya akan tampak kompleks dan ruwet. Pada umumnya hal ini dapat diatasi dengan mengingat antara lain hukum minimum dan prinsip kontekstualisasi progresif. Hukum minimum menyatakan bahwa nilai (hasil, kualitas, bentuk, pola, dan sebagainya) dari suatu sistem ditentukan oleh faktor pendukungnya yang berada dalam keadaan minimum. Contohnya, daya dukung Kota Pekanbaru yang luasnya 15% dari Provinsi Riau hanya akan mampu menampung penduduk ± 1.500.000 jiwa atau 15-20% penduduk Provinsi Riau di masa mendatang karena faktor kebutuhan air bersih di Kota Pekanbaru yang akan berada dalam keadaan minimum. Maka, kalau rendahnya daya dukung Kota Pekanbaru dipermasalahkan, maka pengadaan air bersih harus menjadi perioritas (dinomorsatukan) dalam program pengelolaan lingkungan hidup.

Kontekstualisasi progresif adalah prinsip bahwa suatu masalah harus dilihat konteksnya secara progresif, karena tidak semua konteks itu bersifat penting atau sama pentingnya (A.P. Vayda, 1982). Karenanya, dalam pengelolaan lingkungan harus dapat diidentifikasi persolan pokok yang ada, disusun masalahnya berdasarkan perioritas, dan ditentukan apa peluang terbaik untuk mengusahakan perbaikan kondisi dan keadaan (Soerjani, 1985). Kedua pokok pikiran tersebut melandasi cara berpikir dalam menjawab persoalan yang dihadapi dan menjawab peranan ilmu pengetahuan dan teknologi bagaimana yang harus digunakan sebagai dasar perkembangan industri guna menunjang pembangunan berwawasan lingkungan hidup sehingga dapat dikelola sebaik-baiknya untuk kebaikan bersama.

Vegetasi 1
Ilustrasi AGROTEKNOLOGI.ID

Strategi Hidup Manusia dan Pengelolaan SDA
Sayangnya, perdebatan tentang cara menghadapi tantangan pangan (krisis pangan) global saat ini terbelah menjadi dua kubu, di satu kutub adanya memertentangkan Pertanian Konvensional dan Perdagangan Global dengan sistem Makanan Lokal dan Pertanian Organik di kutub lainnya. Perdebatannya kadang-kadang sengit, alot, dan seperti “debat Politik”, kita tampaknya semakin terbelah (terpecah), bukannya mencari titik tengah (solusi). Pihak yang mendukung Pertanian modern berpendapat bahwa mekanisasi (teknologi) modern, sistem pengairan, pemupukan, dan perbaikan genetika dapat meningkatkan hasil panen untuk membantu memenuhi permintaan pasar, dan “Mereka Benar”.

Sementara itu, pihak pendukung Pertanian konvensional dengan cara-cara (pola) organik “membalas” bahwa Petani kecil dunia dapat menaikkan (meningkatkan) hasil panen yang signifikan — tingkat konsumen dan mengentaskan diri dari kemiskinan— dengan memakai cara (teknologi) yang sederhana dan lebih menyuburkan tanah (unsur hara) tanpa Pupuk Sintetis (artifisial), Pestisida, Herbisida, Fungisida yang menghasilkan Residu, “Mereka juga Benar”.

Tantangan lingkungan yang menyertai pertanian sangatlah besar, dan akan semakin mendesak saat kita berusaha memenuhi kebutuhan pangan yang kian tinggi di seluruh dunia. Sebelum pertengahan abad ini, jumlah mulut yang perlu diberi makan mungkin akan bertambah dua miliar lagi—seluruhnya sembilan miliar orang lebih. Namun, pertumbuhan penduduk yang pesat bukan satu-satunya penyebab kita perlu makanan lebih banyak kelak. 5 (lima) Langkah yang mungkin dapat mengatasi dilema pangan dunia, yaitu;

(1) Bekukan jejak pertanian, (2) Tingkatkan hasil panen di pertanian yang ada, (3) Gunakan sumber daya secara lebih efisien, (4) Ubah pola makan, dan (5) Kurangi pola hidup makanan mubazir. Bersama-sama, kelima langkah ini dapat meningkatkan persediaan pangan dunia lebih dari dua kali lipat, serta secara drastis mengurangi dampak lingkungan akibat pertanian di seluruh dunia. Namun, melaksanakannya tidak mudah. Kabar baiknya, kita sudah tahu apa yang harus dilakukan; kita hanya perlu memikirkan caranya. Untuk mengatasi tantangan pangan global, kita semua harus lebih memerhatikan menu makanan yang kita sajikan. Kita perlu mengaitkan makanan kita dengan kaum petani dan peternak, dengan tanah, perairan, dan iklim yang menjaga kita. Saat kita mendorong troli belanja di lorong toko swalayan, pilihan kita akan turut menentukan masa depan bumi.

Teknologi dan Industrialisasi Berkelanjutan
Sementara teknologi yang dikembangkan dalam upaya menunjang dan menopang sektor industri di Indonesia diharapkan akan menunjang pertumbuhan ekonomi. Peranan sektor ekonomi dalam perkembangan dan pertumbuhan sektor industri pada umumnya sangat penting, atau dapat dikatakan bahwa perkembangan sektor industri dan pertumbuhan ekonomi adalah dua hal yang saling menopang satu sama lainnya.

Selanjutnya, bagaimana dengan keberlanjutan dari perkembangan industri dan pertumbuhan ekonomi ini di lihat dari sudut pandang ekologi?. Pandangan ekologi terhadap peranan tekonologi yang mendukung perkembangan industri dan memungkinkan pertumbuhan ekonomi. Jelas, bahwa selok-belok kehidupan itu selalu saling berkaitan, saling berhubungan, saling membutuhkan, dan saling bergantung satu sektor dengan sektor lainnya, hal ini disebabkan karena masing-masing memiliki keterbatasan.

Contohnya, kenyataan adanya limbah yang dihasilkan dari sektor industri dan proses konsumsi dari produk-produk industri itu, serta semakin meningkatnya kegiatan industri, semakin beraneka ragam dan banyaknya limbah yang dihasilkan. Pada gilirannya limbah itu harus dapat dikelola dan ditampung, diserap, serta didaur ulang dalam siklus proses kehidupan yang terjadi di sekitar kita.

Jelas kiranya, bahwa dalam perkembangan dan kemajuan sektor industri dalam masa mendatang mutlak perlu dipertimbangkan dalam kerangka berpikir keseimbangan yang serasi, selaras dengan sistem kehidupan. Teknologi dan industri yang mengawali terjadinya perubahan besar dalam lingkungan hidup kita, yang menimbulkan risiko menurunnya kualitas lingkungan hidup, maka teknologi dan industri itu yang harus mengembangkan mencari dan menggali solusinya sehingga mampu menyerap dan mengolah limbah agar lingkungan hidup tidak tercemar dan rusak.

Pada akhirnya, semua muara kegiatan dalam siklus kehidupan ini, baik oleh berbagai; industri primer, sekunder, maupun tersier adalah untuk mendukung perikehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya. Upaya itu semua adalah untuk suatu perubahan sosial dan lingkungan hidup. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri telah membawa berbagai kemajuan tetapi sekaligus melahirkan risiko-risiko dalam kehidupan yang seringkali berakibat jauh dan panjang.

Manusia memiliki kebutuhan dan ketergantungan genetik dari ekosistem dan lingkungan kehidupan alamiah, tetapi perlindungan terhadap kehidupan liar, ekosistem, dan bentang alam jagat raya (makrokosmos) harus dilihat sebagai kelayakan dan keharusan moral manusia dalam bingkai etika lingkungan hidup.

Bumi adalah “ibu kehidupan” yang harus dipertahankan, tanpa lingkungan hidup, kehidupan manusia akan berakhir. Ketika Air tidak ada, Ternak punah-ranah, dan bahan Nabati pupus. Saat itu manusia baru terperangah dan tersadar bahwa “duit tak bisa dimakan”.

Catatan:
Diolah dari berbagai literatur dan sumber bacaan.

*Penulis adalah Alumni Sosiologi Fisipol Unri. Saat ini Petani Sawit Swadaya