Buku Sumber Belajar dan Pemicu Nalar Berpikir

Bukuu
Foto: Fixabay.com

Bersama-sama “memerangi hoaks”
LEMBAGA pendidikan dasar, menengah, dan tinggi baik dikelola oleh negara maupun swasta di Indonesia harus terlibat aktif melawan penyebaran berita bohong (hoaks) yang sejak era digital “membahana di jagat maya” negeri ini. Hal itu bisa dilakukan dengan meningkatkan literasi informasi dan kemampuan berpikir kritis—terutama di kalangan mahasiswa— sehingga tidak mudah percaya dengan informasi-informasi yang bisa menyesatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Upaya melawan hoaks, tidak bisa hanya sekadar menyusun regulasi dan penegakan hukum. Penyebaran berita bohong bisa diminimalkan, perlu upaya secara masif dan holistik melalui edukasi supaya tidak mudah kabar yang hadir “nyaris” di hadapan kita setiap waktu yang belum tentu kebenaran dan sumbernya harus “ditelan bulat-bulat”.

Mengatasi masalah ini tidak cukup hanya dengan pendekatan legal formal (hukum), dan tak kalah pentingnya pendekatan bersifat edukatif. Mulai dari orang dewasa, orangtua, mahasiswa, dan peserta didik (pelajar) harus memiliki literasi informasi dan daya pikir kritis terhadap semua informasi yang masuk dan dibaca, baik melalui “gawai layar sentuh” maupun media cetak.

Hasil berbagai riset tentang pengaruh membaca dan menulis sejak dini pada anak-anak, menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif pada anak-anak dari membaca dan menulis dini. Anak-anak yang telah diajar membaca dan menulis sebelum masuk SD pada umumnya lebih maju di sekolah daripada anak-anak yang belum pernah memeroleh membaca dan menulis.

Frekuensi membaca —koran, majalah, jurnal, dan buku— orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu dengan durasi waktu membaca rata-rata 30-60 menit perhari. Adapun jumlah buku yang “ditamatkan” rata-rata 5-9 buku pertahun. Hasil studi (riset) dari Most Litered Nation in the World yang dilakukan oleh Central Conecticut State University (CCSU) pada Maret 2016, Indonesia berada pada posisi (peringkat) 60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia berada di bawah satu strip dari Thailand (59) dan di atas satu peringkat dari Botswana (61). Fakta membuktikan 95% bahwa peserta didik/ mahasiswa yang memiliki perilaku (tabiat) kebiasaan membaca dan menulis sangat dipengaruhi (berbanding lurus) oleh kebiasaan orang tua dalam hal aktivitas membaca di rumah tangga setiap hari.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan dan berharap banyak dengan jawatan (institusi) pendidikan, dalam hal kebiasaan membaca dan menulis pada anak didik/ mahasiswa. Apalagi tidak semua lembaga pendidikan memiliki ruang bibliotek (perpustakaan) yang memadai untuk dikunjungi.

UNESCO dan Hari Buku

Sejarah membuktikan, pengarang yang hebat, buku yang luar biasa, memerlukan pembaca untuk mengapresiasikannya. Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) merancang Hari Buku sebagai perayaan. Perayaan atas pengarang yang inspiratif, ilustrator buku yang mencerahkan, dan terutama adalah perayaan untuk para pembacanya.

Sejak tahun 1995, sebenarnya UNESCO hanyalah meneruskan perayaan tradisi literasi yang sudah berlangsung di Spanyol jauh sebelumnya. Tanggal 23 April dipilih untuk menghormati pengarang Miguel de Cervantes, seorang penulis buku legendaris Don Quixote, yang meninggal 23 April 1616. Ketika ditelusuri lebih lanjut, ternyata William Shakespare— seorang penulis buku, drama, dan puisi— juga meninggal pada tanggal dan tahun yang sama.

Inggris dan Irlandia contohnya, di sana Hari Buku adalah momentum untuk mengajak anak-anak mengeksplorasi imajinasi dan menikmati dunia baca, sekaligus membuka peluang agar anak-anak gemar membaca dan bisa memiliki bukunya. Lalu, bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Hari Buku umumnya berlalu begitu saja. Bahkan buku-buku semacam Magic Tree House yang bisa meningkatkan pengetahuan dan alam berpikirnya anak-anak dengan cara yang mengasyikkan dan menyenangkan, tidak besar gaungnya.

Permasalahannya ada pada indeks minat baca di Indonesia yang masih sangat rendah. Merujuk data UNESCO pada tahun 2012, Indeks Indonesia 0,001. Ini berarti hanya ada satu dari setiap 1.000 penduduk yang memiliki minat baca. Bahkan, dalam World’s Most Literate Nations tahun 2016. Indonesia hanya satu tingkat di atas Botswana, urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei (Kompas, 25/4/2018).

Rendahnya minat baca memengaruhi daya nalar bangsa. Apalagi di tengah serbuan informasi era digital ini. Akibatnya, hoaks, kampanye hitam, dan berbagai kabar menyesatkan lainnya dengan mudah dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, bahkan direplikasi (disebarkan) sebelum tuntas dibaca, ke seluruh atau sebagian kelompok (group) media sosial yang diikuti.

Membangun Tradisi dan Budaya Membaca
Bagaimana memutus mata rantai ini? “Galakkan” kembali tradisi dan budaya membaca, yang dimulai dari rumah tangga dan lingkungan tempat tinggal, sampai dengan lembaga pendidikan. Sehingga sebelum anak-anak bisa membaca, guru selalu menyisipkan sebuah buku untuk dibaca di rumah bersama orangtua.

Buku yang diberikan tidak hanya berselang-seling “campur sari”, tetapi “tingkat kesulitannya” juga disesuaikan dengan usia dan kemampuan membaca masing-masing anak. Ada buku belajar membaca. Mengenali lingkungan, dan tentu saja cerita-cerita fiksi yang imajinatif. Secara pararel (linear), orangtua di rumah tangga juga harus ikut berperan. Membaca; koran, majalah, buku-buku, dan dokumen ilmu pengetahuan lainnya sehingga harus terus dihidupi setiap hari agar anak melihat dan meniru contoh nyata di sekitarnya.

Bukuu 2
Seorang relawan dari Komunitas Tanah Ombak sedang mengajar membaca kepada anak-anak di kawasan Sebrang Pabayan, tepi Sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat, Minggu (16/7/2017). Foto: Kompas.com

Ada pelbagai keuntungan bila daya baca ini meningkat, mulai dari kemampuan untuk fokus, mendalami teks, hingga berkembangnya daya nalar dalam mengikuti kompleksitas teks. Oleh karena itu, Indonesia harus berbenah dan membangun tradisi dan budaya membaca agar menjadi habitus (kebiasaan) baru bangsa. Hari Buku seharusnya bisa menjadi momentum untuk menyediakan buku-buku yang baik dan berkualitas dengan harga terjangkau, mempermudah akses buku di manapun anak bangsa berada dan membuat lomba-lomba membaca dan resensi buku dengan dibarengi hadiah yang menarik dan mendidik sebagai stimulant anak bangsa.

Tradisi Berpikir Kritis dan Budaya Membaca cegah Radikalisme
Gerakan pelajar (STM) dan mahasiswa yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini (September 2019), dalam skala tertentu sesuai dengan model aksi konektif, merujuk Lance W. Bennett dan Alexandra Segerberg (2012) dalam “The Logic of Connective Action” seperti dikutip dari Kompas (27/9/2019), kedua peneliti politik itu menuturkan, pada era media baru, muncul aksi konektif, yang berbeda dari aksi kolektif yang selama ini dikenal secara umum (publik). Aksi kolektif biasanya terkait dengan sumber daya organisasi yang tinggi serta adanya pembentukan identitas kolektif. Sementara itu, aksi konektif berbasis pada penyebaran konten (informasi) yang dipersonalisasi melalui media sosial.

Tradisi berpikir kritis dan budaya membaca bisa mencegah radikalisme dan menangkal berita-berita hoaks di masyarakat. Sehingga, bangsa ini perlu berbenah dan mengedukasi masyarakat dan upaya ini terus ditumbuhkan untuk menghadapi arus informasi lewat berbagai “kanal-kanal”. Jika sikap tidak kritis, masyarakat akan mudah terpengaruh, yang berimplikasi (akibat) suburnya radikalisme.

Oleh sebab itu, setiap informasi harus di cek ulang; jika dalam bentuk teks, siapa yang menulis beritanya? Penerbit media cetaknya?, Media online “abal-abal” atau tidak?, Media e-paper yang resmi atau tidak?. Jika dalam bentuk audio visual, perlu di cross check siapa yang berbicara? Darimana sumbernya? Berita resmi dari siaran televisi atau bukan?. Prinsip kehati-hatian dalam memilih berita atau informasi sangatlah penting.

Ilmu Pengetahuan dan Agama sebagai “benteng nalar berpikir”

Manusia mewujudkan sebagian dari dunia, sehingga manusia bertugas untuk hidup selaras dengan keselarasan dunia. Tugas ini dapat kita penuhi jika ia hidup selaras dengan dirinya sendiri, artinya; jika ia hidup sesuai dengan akal, baik akalnya sendiri maupun tata-tertib dunia yang akali (hukum dunia yang bersifat ilahi). Kebajikan adalah akal yang benar (recta ratio), artinya; akal yang selaras dengan akal dunia.

Jika akal sehat (alam berpikir) saja tidaklah cukup dan titik-titik ekstrim naturalisme dan postmodernisme tidak menawarkan solusi apapun, maka muncul pertanyaan, dari sumber manakah kita menggali untuk memenuhi keperluan mendasar (fundamental) kita dalam hal Nilai?. Selanjutnya, bagaimana dengan tradisi?

Sebagian orang berharap akan menemukan kunci penyelesaian pertanyaan penting ini dalam tradisi dan tentunya menempatkan agama dalam pengertian tradisinya yang luas. Bagi sebagian orang, agama mempunyai dua fungsi penting; Pertama, ia telah menjadi sumber penilaian substantif dalam hal Nilai. Kedua, agama telah memainkan peranan penting dalam membangun pengertian-pengertian yang mensosialkan individu. Karena itu Agama mempunyai tempat yang sangat penting dalam masyarakat sipil (civil society).

Merujuk beberapa literatur, hari ini dengan menjamurnya media sosial, banyak orang sedang mengalami era post-truth, “istilah yang berhubungan dengan atau mewakili situasi-situasi di mana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan data dan/ atau fakta yang obyektif”.

Di sisi lain, hoaks menjadi mantera ampuh untuk menghilangkan daya kritis seseorang ketika menerima informasi yang diterima, sehingga begitu saja disebarluaskan kepada orang lain, karena dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Proses check and balances menjadi sangat tipis, bahkan “nyaris” hilang. “Potong kompas” informasi yang berseliweran di tengah-tengah kehidupan berbasis internet menjadi sebuah kelaziman dan kelumrahan, sehingga terkesan muncul nada permakluman ketika beredar informasi yang menyesatkan bagi para konsumen informasi.

Jika pikiran (alam berpikir) kita sudah terkena “polusi kepentingan” sehingga tidak bening dan jernih lagi, masih ada sepotong nasehat Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Mintalah fatwa pada hati nuranimu”. Orang bisa berbohong pada orang lain dan berbohong pada masyarakat luas, akan tetapi orang tidak pernah dapat berbohong pada nuraninya sendiri.

Selanjutnya, dalam Agama Islam, ajaran tabayyun semestinya didahulukan ketika terdapat berita maupun peristiwa yang terjadi. Saat ini kita disuguhi oleh industrialisasi hoaks dan justeru menjadi penghidupan oleh sebagian kecil dari orang-orang di sekitar kita. Sebagai penutup, penulis mengutip pernyataan Nabi Syu’aib A.S. seperti tertera abadi dalam Kitab Suci Al-Qur’an: “Aku hanya menghendaki perbaikan semampuku, kecuali dengan pertolongan Allah SWT. Kepada-Nya akau berserah diri, dan kepada-Nya pula aku akan kembali”. (Al-Qur’an, XI:88).

Catatan :
Diolah dari berbagai literatur, referensi, dan sumber bacaan.

*Penulis adalah Alumni Sosiologi Fisipol Unri. Saat ini sebagai petani sawit swadaya.