Sambut Pelantikan Jokowi, Pelajar Yogyakarta Gelar Demonstrasi

Demo Jogja
Pelajar Yogyakarta menggelar aksi di Bundaran UGM. Foto: Kumparan.com

WIRANESIA.ID- Yogyakarta- Pelajar di Yogyakarta menggelar aksi di Bundaran UGM, Minggu (20/10/2019) sore. Mereka yang tergabung dalam Gerakan Pelajar Yogyakarta, mengingatkan Jokowi tentang kasus-kasus pelanggaran HAM, menolak segala bentuk represi dan upaya pembungkaman hak demokrasi di Indonesia dengan tagar #KamiTidakDiam.

“Kalau ini aksi ini dari kawan-kawan pelajar yang mereka menyoroti bagaimana represi dan kriminalisasi aparat terhadap massa aksi. Sekaligus solidaritas untuk lima kawan yang kemarin meninggal di Jakarta dan Kendari,” kata Acik, humas Gerakan Pelajar Yogyakarta.

Pelajar turun dalam momen pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 sebagai teguran, pelajar sebagai kaum muda sudah mulai bergerak. Turunnya pelajar seharusnya jadi tanda bagi pemerintah, negara sedang tidak baik-baik saja.

“Ada banyak persoalan yang mereka (pemerintah) menyelesaikan dengan represi dengan menghadang dan sebagainya. Mereka sebagai pelajar menunjukkan ini lho kita sudah mulai bergerak, ini lho kita sudah mulai tidak percaya pada negara. Ini lho kita tidak percaya elite politik,” kata dia.

Acik juga tidak yakin Jokowi akan memprioritaskan penuntasan pelanggaran HAM pada lima tahun ke depan. Hal itu dilihat dari rekam jejak Jokowi lima tahun terakhir yang sama sekali tidak fokus di penuntasan pelanggaran HAM.

“Tapi tidak berarti bahwa ketika Jokowi tidak ada fokus di situ satu paslon yang lain Prabowo punya fokus (penuntasan HAM), juga tidak. Jadi kedua kubu ini sama saja tidak punya fokus penuntasan kasus HAM. Tapi yang punya fokusnya mereka adalah menekan kesadaran masyarakat untuk tahu persoalan (pelanggaran) yang ada di Indonesia,” ujar Acik.

Dia mengatakan aksi Gejayan Memanggil kemarin menurutnya sebuah aksi yang bisa digunakan untuk menekan negara. Negara juga harusnya tidak boleh lagi meremehkan gerakan massa.

“Tidak bisa meremehkan yang namanya rakyat yang sekarang sudah mulai resah dengan segala persoalan kebijakan,” kata dia.

Berikut pernyataan sikap Gerakan Pelajar Yogyakarta:
1. Menentang segala bentuk pembungkaman hak demokrasi dan tindak represif dari pemerintah melalui Mendikbud, Menristekdikti, dan segenap aparat negara terhadap pelajar, mahasiswa, dan segenap elemen masyarakat.
2. Menuntut keadilan bagi kawan kami yang menjadi korban kekerasan dari aparat.
3. Menuntut pemerintah menangkap dan mengadili oknum aparat yang melakukan tindakan represi dan kekerasan kepada masyarakat yang turun aksi.
4. Membebaskan para aktivis pro-demokrasi.
5. Menuntut pemerintah segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.
6. Menuntut pemerintah dengan segera mengatasi dan mengadili pelaku kebakaran hutan dan lahan dan mengungkap dalang di baliknya serta orang-orang yang terlibat di dalamnya.

7. Mendesak pemerintah mengeluarkan Perppu terkait UU KPK dan UU Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan.
8. Merevisi pasal-pasal yang dianggap bermasalah dalam RKUHP dan meninjau ulang pasal-pasal tersebut dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
9. Menolak RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, RUU Keamanan dan Ketahanan Siber, dan RUU Minerba.
10. Tuntaskan kasus pelanggaran HAM dan HAM berat serta adil penjahat HAM.
Sumber: kumparan.com