“Mencatat Demam” karya Willy Fahmy Agiska Raih Buku Puisi Terbaik HPI 2019

HPI 2019
Willy Fahmy Agiska (kelima dari kanan). Foto: Haripuisi.info

Segalanya
Tak pernah seganjil ini:
Selepas matahari dan malam
Membesarkan jasadku yang layu
Tak ada jam-jam datang
Tak ada yang kusebut seseorang.
Sedang dalam debar, batu-batu gugur
Jadi namamu. Jadi namamu.
(Potongan Puisi “Mencatat Demam” Willy Fahmy Agiska/Asas.or.id)

WIRANESIA.ID- Jakarta- Lewat buku puisinya “Mencatat Demam”, penyair muda Willy Fahmy Agiska (27 tahun) meraih penghargaan sebagai Buku Puisi Terbaik dalam Sayembara Hari Puisi Indonesia (HPI) 2019. Penghargaan diberikan bertepatan dengan hari dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Namun, pengumuman buku puisi terbaik 2019 berlangsung di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (20/10) malam.

Bersamaan dengan puisi terbaik, diberikan pula penghargaan untuk Lima Buku Puisi Pilihan.

Lima buku puisi itu adalah “Pejalan” karya Dharmadi Putra (Yogyakarta), “Kanaya” karya Rini Intama (Jakarta), “Mereka Terus Bergegas” karya Bode Ruswandi (Tasikmalaya), “Jikalau Laut Dinyalakan” karya Abdul Kadir Ibrahim (Kepulauan Riau), dan “Syahwat Batu” karya Ali Ibnu Anwar (Yogyakarta).

Atas keberhasilan ini, Willy Fahmy Agiska berhak mendapatkan piagam plus hadiah uang 50 juta rupiah. Sedang lima peraih puisi pilihan masing-masing mendapat 10 juta rupiah.

Dilansir dari situs Litera.co.id, Willy Fahmy Agiska adalah nama baru dalam perpuisian Indonesia. Lelaki asal Ciamis yang baru saja menyelesaikan kuliahnya ini mengaku bahwa “Mencatat Demam” merupakan buku puisinya yang pertama.

“Aku mulai intens menulis puisi pada tahun 2012,” ujarnya saat diwawancarai Hasan Aspahani pada Minggu (20/10) malam, dikutip Litera.

Bahkan Willy mengalahkan penyair-penyair senior seperti Kurnia Effendi, Afrizal Malna, Abidah el Khalieqy, Abdul Kadir Ibrahim, dan penulis senior lainnya.

Untuk diketahui, sayembara buku puisi dalam rangka perayaan Hari Puisi 2019 ini diikuti 207 penyair seluruh Indonesia. Sayembara ini diadakan oleh Yayasan Puisi Indonesia.

Dewan juri yang bertugas memilih Buku Puisi Terbaik 2019 adalah penyair Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, dan Maman S. Mahayana.

Wil
Penyair Willy Fahmy Agiska Foto: Buruan.co

Ketua Yayasan Hari Puisi, Maman S Mahayana, dalam sambutannya semalam mengungkai makna tema Hari Puisi 2019, yakni “Puisi sebagai Dignity dan Intelektualisme”. Dimana menurut Maman, puisi itu tidak hanya sekadar permainan kata atau curahan hati saja, tapi sebuah puisi selalu menyimpan infomasi tentang pengetahuan dunia serta menawarkan gagasan tentang masa depan sebuah bangsa.

“Puisi-puisi Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, atau para ulama besar kita seperti al-Banjari, Syekh Yusuf al Palimbani, al-Bantani, yang ditulis dalam bahasa Melayu dan para aulia yang tawaduk, mengajari para santrinya di berbagai pesantren di Tanah Air, melalui nadhom- yang juga hakikatnya puisi, di dalamnya tersimpan pewartaan pengetahuan tentang bahasa, sastra, sejarah geografi, politik pemerintahan, astronomi, sosiologi, perubahan, dan etika dalam kehidupan sosial budaya,” kata Maman dikutip Haripuisi.Info.

Perayaan HPI 2019 berlangsung sejak 18 Oktober 2019 hingga tadi malam. Acara dihelat di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, dengan berbagai agenda, seperti: seminar nasional, peluncuran buku puisi “Palung Tradisi”, pembacaan puisi oleh penyair nasional, peluncuran perangko Raja Ali Haji dan Chairil Anwar, serta agenda sastra lainnya. Tahniah buat Willy Fahmy Agiska! **** Darwin