Hasilkan 6-10 Ton Padi Per Ha, Bungaraya, Siak, Jadi Etalase Daerah Irigasi Rawa Terbaik Nasional

Bunga raya 1
Hamparan Padi di Kecamatan Bunga Raya, Siak

WIRANESIA.ID- Kecamatan Bungaraya menjadi Daerah Irigasi Rawa (DIR) terbaik secara nasional. Saat ini, perkampungan di kecamatan itu benar-benar menjadi lumbung padi untuk Kabupaten Siak.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Pemukiman (PU Tarukim) Siak Irving Kahar Arifin, menyatakan DIR Bungaraya secara hydrotopografi masuk kategori D atau pasang tertinggi tidak masuk air ke persawahan.

Namun, sawah di kecamatan ini sejak beberapa tahun belakangan bisa ditanam dua sampai tiga kali setahun dengan hasil produksi 6-10 ton per hektare.

“Ini daerah gersang awalnya, yang membutuhkan komitmen tinggi pemerintah untuk mengalirkan air ke lahan pesawahan,” jelas Irving, Selasa (29/10).

Keberhasilan produksi padi tersebut dipicu oleh masifnya pembangunan irigasi dan pompanisasi. Program tersebut dirancang Pemkab Siak namun dibiayai dari DAK APBN. Hingga sekarang, Dinas PU Tarukim terus berupaya menambah irigasi dan pompanisasi untuk meningkatkan debit air.

“Karena keberhasilan produksi padi, dengan peningkatan jumlah produksi yang signifikan, maka Bungaraya menjadi etalase daerah irigasi rawa terbaik,” ucapnya.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera III Kementrian PUPR menetapkan Bungaraya sebagai etalase DIR terbaik di Indonesia karena pemanfaatkan program DAK, yang diukur dari hasil produksi padi.

Kepala Dinas PU Tarukim Siak Drs. H. Irving Kahar Arifin, M.Eng. Foto: Tribunpekanbaru

Bahkan BWS Sumatera III sudah melakukan ekspos dalam forum pertemuan BWS se-Indonesia di Bali baru-baru ini.

“Sebelumnya petani hanya bisa tanam 1 kali setahun. Saat ini sudah 2-3 kali dengan hasil 6-10 ton per hektare,” kata dia.

Secara umum, program irigasi dari DAK di Siak berhasil meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu pula Dinas PU Tarukim Siak diganjar penghargaan oleh Kementerian PUPR pekan lalu di Palembang, Sumatera Selatan.

Irving mengemukakan, sebelum dibangunnya infrastruktur pengairan irigasi di Kampung Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kampung Belading dan Rempak di Kecamatan Sabak Auh, sawah lokal hanya mampu menghasilkan 800 kg per hektare.

Saat ini petani setempat sudah menghasilkan 3 ton per hektare.

“Ini upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan. Kita sangat konsen dan komitmen untuk terus membangun infrastruktur pengairan demi kesejahteraan petani lokal,” kata dia.

Titik pembangunan irigasi dan pompanisasi sudah sampai di hampir seluruh lahan pesawahan.

Melihat air lancar mengalir itu pula warga sudah banyak mengalihfungsikan kebun sawit menjadi lahan sawah.

Menurutnya, pemerintah sangat siap untuk daerah yang diusulkan Pemkab Siak. Selain irigasi, pompanisasi juga jalan tani.

Untuk tahun 2020, pihaknya mengusulkan penambahan pompanisasi di paket B dan D yakni kampung Kemuning Muda dan Tuah Indrapura.

Pemkab Siak melalui APBD juga telah membangun pompanisasi di Kampung Belading. Saat ini pihaknya mengarah ke Kampung Rempak dan Selat Guntung.

Kepala Dinas Pertanian Siak, Budiman Shafari mengatakan, selama 2 tahun terakhir sudah 230 hektare lahan sawit dialihfungsikan menjadi sawah. Sebanyak 150 hektare pada 2018 dan 80 hektare pada 2019 ini. Semua lokasi itu berada di Bungaraya.

“Lokasinya ada di Kampung Buantan Lestari, Tuah Indrapura, Kemuning Muda, Jatibaru dan Langsat Permai dan sekitarnya. Faktor pemicunya selain infrastruktur pengairan juga terdistribusikan alat-alat pertanian kepada mereka,” kata dia.

Menurut dia, para petani padi di Bungaraya sudah menggunakan mekanisasi peralatan modern. Mulai dari menggarap lahan, menyemai, menanam, memupuk hingga memanen dan menggiling sudah ada mesinnya.

“Jadi orang sekarang ke sawah tidak lagi harus berlumpur-lumpur seperti pertanian padi konvensional. Kelebihan kita karena sudah dilengkapi peralatan yang modern,” kata dia.

Ia menjelaskan, lahan sawit yang dialihfungsikan adalah yang masih produktif. Sebab, petani membandingkan hasil yang didapat jauh lebih menguntungkan tanaman padi.

“Dulu orang menanam sawit karena belum bisa membayangkan infrastruktur jaringan pengairan. Saat air lancar dan bisa tanam 3 kali setahun, maka masyarakat lebih memilih padi,” kata dia.

Untuk 1 hektare padi, masyarakat bisa mengeluarkan hasil panen minimal 6 ton. Sedangkan sawit hanya Rp 1juta per bulan per hektare. “Hasilnya memang jauh beda, dan modalnya juga lebih enteng pertanian padi,” kata dia.

Pada 2019, kampung-kampung yang mengalihkan fungsi sawit menjadi sawah adalah Kampung Buantan Lestari seluas 10,5 hektare, kampung Tuah Indrapura 25,5 hektare, Kemuning Muda 6 hektare, Langsat Permai 25 hektare, dan Jatibaru 14 hektare. Sumber: Tribunpekanbaru.com. ***