Bolu Berendam, Kuliner Khas Warisan Raja Indragiri di Inhu

Bolu Yopi Mnatap
Bupati Inhu H. Yopi Arianto SE saat menerima penghargaan pemecahan rekor MURI penyajian bolu berendam terbanyak dari Wakil Direktur MURI, Osmar Semesta Susilo

WIRANESIA.ID- Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, dikenal dengan warisan sejarahnya berupa peninggalan Kerajaan Indragiri dan juga peristiwa heroik rakyat Inhu pada pertempuran Bulan Januari tahun 1949 melawan operasi militer Belanda. Bagian dari sejarah masa lampau itu juga merambah ke bidang kuliner, dimana Indragiri Hulu ternyata menyimpan kekayaan kuliner yang sangat kaya dan berharga.

Kebudayaan masyarakat Melayu di Indragiri Hulu masa lampau mewariskan berbagai jenis makanan dan makna-makna filosofis di baliknya. Ia tidak hanya sekadar pengenyang perut atau pelepas dahaga, namun kuliner-kuliner itu menyimpan cerita dan makna, dan bertali-temali pula dengan sejarah.

Satu dari sekian banyak kuliner yang diperbincangkan di Inhu khususnya dan Riau umumnya belakangan adalah kudapan yang disebut “Bolu Berendam”. Sebuah nama nan unik, bukan! Biasanya bolu yang kita santap adalah bolu kering seperti yang sering dibuat ibu-ibu atau dijual di pasar, warung, hingga super market itu.

Namun bolu yang satu ini berwujud basah, makanya disebut bolu berendam. Menyantapnya pun juga dalam kondisi basah (berkuah).

Bolu berendam sudah menjadi kuliner khas Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, sejak dulu. Dalam arti, jika bicara bolu berendam, pikiran orang langsung tertuju pada kabupaten yang identik dengan Kerajaan Indragiri dan Suku Talang Mamaknya ini.

Bolu berendam, penganan khas Kabupaten Indragiri Hulu

Ya, begitulah nyatanya. Bolu berendam sudah ada sejak lama, bahkan menurut cerita, raja-raja di Istana Indragiri menjadikan bolu berendam sebagai kudapan favorit.

Itu berarti, bolu berendam bukanlah makanan sembarangan. Ia disantap kaum bangsawan Indragiri masa lampau. Bahkan dari berbagai sumber, kue ini disajikan di acara-acara penting dengan tidak sembarangan pula. Kue yang biasanya berwarna kuning ini disajikan di atas talam dan baki berkaki.

Pemkab Inhu Populerkan Bolu Berendam
Supaya semakin dikenal, Pemkab Inhu melalui Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Inhu terus mempromosikan kue ini dalam berbagai acara penting. Hal ini menandakan Pemkab Inhu sangat peduli dengan kuliner yang satu ini. Tak lain tujuan Pemkab Inhu adalah supaya makanan khas ini tak lesap ditelan zaman untuk nantinya tetap lestari hingga ke anak cucu.

Salah satu peran Pemkab Inhu lewat bupatinya H. Yopi Arianto SE mempromosikan bolu nan manis ini, adalah saat digelarnya pembuatan 100 ribu bolu berendam dan tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan MURI ini langsung diterima oleh Bupati Inhu Yopi Arianto berbarengan dengan acara MTQ Kabupaten Inhu ke-47 tahun 2017, di Kampung Pulau, Kecamatan Rengat.

Piagam penghargaan pemecahan rekor MURI ini diserahkan langsung oleh Wakil Direktur MURI, Osmar Semesta Susilo, kepada Yopi Arianto.

“Penghargaan dari MURI ini yang saya terima ini merupakan milik seluruh masyarakat Indragiri Hulu. Mari kita jaga dan populerkan makanan Nusantara bolu berendam asal Indragiri Hulu ini hingga ke pelosok negeri di Indonesia,” kata Yopi Arianto saat membuka pelaksanaan MTQ Ke-47 Tingkat Kabupaten Inhu.

Pemberian penghargaan dari MURI tidak saja berkaitan dengan banyaknya kue bolu berendam yang dibuat, tetapi memerhatikan pula proses kerumitan dalam pembuatannya.
Ya, pembuatan bolu berendam memerlukan keahlian khusus dengan bahan-bahannya seperti tepung terigu, telur ayam, gula pasir, daun pandan, kayu manis, pewarna, adas, vanili, serta cengkeh.

Salah satu proses yang harus diikuti bagi yang ingin membuat bolu berendam adalah pengocokan telur yang disarankan dengan cara manual tanpa menggunakan alat listrik (mixer). Hal ini, dikarenakan alat listrik berpengaruh dengan kualitas kocokan telur yang menjadi salah satu bahan bolu berendam.

Pembuatan bolu berendam juga memakan waktu berjam-jam karena proses pemanggangan bolunya, ditambah lagi pembuatan kuah sebagai pelengkap. Rumit memang, tetapi dari proses itulah dihasilkan bolu yang bercitarasa tinggi dan disukai banyak orang.

Keunikan lain dari pembuatan bolu ini adalah jumlah telur yang banyak, plus gula, tapi sedikit tepung. Walaupun begitu, jika diolah oleh orang Inhu yang sudah ahlinya bisa dipastikan amisnya telur tidak akan terasa.

Bolu berendam raih Anugerah Pesona Indonesia sebagai makanan tradisional terpopuler

Sisi unik lain adalah pelengkap bolu berupa kuah nan manis karena mengandung larutan gula, plus cengkeh, serta kayu manis, yang dijadikan pasangan bolu berendam ketika dihidangkan. Jadilah, makanan ini terasa sangat manis ketika disantap tersebab direndam dalam larutan gula. Walau begitu ia tetap menjadi menu favorit banyak orang.

Keseriusan Pemkab Inhu mempromosikan makanan yang dibuat di loyang ukuran kecil ini dibuktikan pula dengan terpilihnya Bolu Berendam sebagai makanan tradisional paling populer dalam Anugerah Pesona Indonesia pada Bulan November 2017 mengalahkan penganan tradisonal berbagai daerah lainnya di Nusantara.

Saat itu, penghargaan langsung diberikan oleh Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Gatot Dewa Broto kepada Wakil Bupati Inhu, H. Khairizal yang hadir di Jakarta.

O ya, sebagai tambahan, bolu berendam khas Inhu ini tidak saja menjadi makanan favorit saat hari Lebaran, tetapi juga menjadi pelengkap saat perhelatan perkawinan di Inhu. Ia melengkapi penganan-penganan lainnya seperti kue hasidah, misalnya.

Nah, begitulah kisah dari bolu berendam. Kudapan yang bertaut dengan sejarah masa lampau orang Inhu, yakni terkait dengan kebudayaan Melayu di Kerajaan Indragiri. Tentunya ini merupakan warisan penting dan bermakna bagi masyarakat Inhu saat ini. <Adv> ***