Potret Buram Dunia Pendidikan di Meranti, ke Mana Pemerintah?

WIRANESIA.ID- Potret buram dan miris dunia pendidikan kita terus menampakkan wujudnya. Mulai dari perdebatan kurikulum di pusat sana, kesejahteraan guru, perundungan, dan banyak lagi lainnya. Nah, yang terbaru adalah terkait kesejahteraan guru di kabupaten yang berhadapan dengan Selat Malaka yakni, Kepulauan Meranti, Riau.

Seorang guru di Meranti viral belakangan karena pengorbanan dan tekadnya menerobos rintangan demi mengajar anak didiknya di sekolah SDN 10 Lukun, Dusun Keridi, Desa Bathin Suir, Kecamatan Tebing Tinggi Timur. Sebuah SD yang memencil dari daerah-daerah lainnya.

Untuk mencapai lokasi tersebut, hanya ada satu jalur, yakni melalui Sungai Suir dengan menaiki perahu kecil yang disebut pompong dengan lama perjalanan hampir satu jam.

Guru itu bernama Syamsul Bahri. Seorang guru yang pengorbanannya tak sedikit bagi SD 10 Lukun. Untuk menuju sekolah, ia dan rombongan guru lainnya harus menaiki perahu dari pelabuhan Desa Banglas Barat, Kecamatan Tebing Tinggi.

Dalam seuah video yang viral, Syamsul Bahri harus basah-basahan mengamankan perahu yang lagi oleng. Sementara di atas perahu, guru lainnya tampak ketakutan.

“Memang tidak terpikir ketika itu tiba-tiba saja insting saya perintah langsung terjun setelah beberapa orang guru di atas perahu menjerit ketakutan saat perahu oleng,” ungkapnya dikutip Riaupos.co.

Inilah potret pendidikan di Kepulauan Meranti. Akses jalan yang tidak memadai, membuat para guru serta murid sekolah kesulitan mencapai sekolah mereka.

Guru Me
Syamsul Bahri dan guru lainnya melintasi jalan berlumpur menuju SDN 10 Lukun, Kepulauan Meranti (Rabu, 22/1). Foto: Riau Pos

Syamsul Bahri dan para guru lainnya itu terpaksa menempuh jalur sungai karena akses lewat jalan darat cukup jauh dan memutar. Jadi, perahu kecil adalah alternatif para guru SD 10 Lukun tersebut meski maut tantangannya.

Tak cukup hingga di sini, Syamsul Bahri dan kawan-kawannya juga harus berkubang lumpur saban harinya, sebelum mencapai sekolah.

Masih banyak tantangan lainnya, yang dihadapi guru-guru SD yang mengajar anak-anak Suku Akit ini. Bisa perahu rusak, gelombang tinggi, atau dari sisi kesejahteraan mereka.

Namun, para guru ini tulus mengabdi demi pendidikan di Meranti, bahkan mereka membeli sendiri perahu tersebut, membeli tanah untuk lokasi sekolah SD 10 Lukun dengan biaya sendiri, dan pengorbanan lainnya.

Pertanyaannya, ke manakah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti? ***