Petani Sabak Auh Pompa Air Sungai Siak, Dialirkan ke Sawah

Ilustrasi sawah di Kabupaten Siak. Foto: RRI.co.id

WIRANESIA.ID- Petani di Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak, membuat inovasi dengan memompa air di Sungai Siak untuk dialirkan ke lahan persawahan menggunakan mesin untuk mengantisipasi musim kemarau.

“Itu modalnya Rp30 juta yang didapat dari pinjaman Badan Usaha Milik Kampung. Alhamdulillah hasilnya bisa mengaliri sawah lebih kurang seluas 50 hektare,” kata Bupati Siak, Alfedri ketika melakukan panen raya di Sungai Tengah Kecamatan Sabak Auh, Minggu (16/2).

Adapun padi yang dipanen adalah jenis serang dengan total luas lahan 155 hektare. Itu dari total luas persawahan keseluruhan yang berjumlah 450 ha dengan produksi varietas mencapai 4,5 ton per ha.

Menurutnya, di Kabupaten Siak rata-rata persawahannya di atas permukaan air, namun dekat dengan Sungai Siak. Jadi kendalanya saat ini adalah distribusi air dalam sekala besar dari sungai ke sawah yang membutuhkan biaya operasional yang cukup besar.

“Untuk itu kita akan mengupayakan pompanisasi sebagai salah satu solusi agar sawah tetap basah,” sebut Alfedri.

Saat ini luas lahan pertanian padi di Kabupaten Siak berjumlah 4900 ha, yang tersebar di beberapa kecamatan. Rata-rata pertanian padi masih menggunakan pola tadah hujan, sehingga apabila musim kemarau tiba, tanaman akan kekurangan air dan berpengaruh pada hasil panen.

Maka dari itu, upaya menggunakan mesin pompa seperti ini patut didukung. Pemerintah Kabupaten Siak sebutnya akan mengupayakan solusi, baik melalui usulan di musyawarah rencana pembangunan kecamatan maupun kabupaten, jika perlu juga diusulkan ke tingkat provinsi.

“Namun kalau kita ingin persoalan pengairan ini dapat segera teratasi, bisa menggunakan dana desa. Karena Presiden Joko Widodo pada saat Musrenbang Nasional di Istana Negara beberapa waktu lalu sudah menyampaikan arahan bahwa dana desa dapat dimanfaatkan bagi pembangunan infrastruktur dalam mendukung swasembada pangan,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Gapoktan Mekar Jaya Kampung Sungai Tengah, Kademo terlebih dahulu juga menyampaikan kurangnya mesin pengolah tanah. Saat ini katanya hanya memiliki tiga mesin yang masih belum mampu mencukupi kebutuhan operasional para petani.
Antara