Angka Kematian Corona di AS Lebih Tinggi dari Perang Vietnam

Para perempuan Amerika berada di salon. Di beberapa negara bagian di AS perekonomian sudah dibuka. Foto: dari Katadata.co.id

WIRANESIA.ID- New York- Data penghitungan Universitas Johns Hopkins hingga Selasa, jumlah kasus terinfeksi virus corona baru di Amerika Serikat nyaris 1 juta, setelah perhitungan dua kali lipat dalam 18 hari. Angka ini merupakan sepertiga dari semua kasus terinfeksi di dunia.

Lebih dari 56.500 orang Amerika telah meninggal karena penyakit pernafasan yang sangat menular COVID-19, disebabkan virus, dengan rata-rata jumlah korban meninggal ada sekitar 2.000 per hari selama bulan ini.

Jumlah penghitungan lapangan dianggap lebih tinggi dari penghitungan resmi. Pejabat kesehatan masyarakat negara bagian memperingatkan terbatasnya pekerja terlatih dan bahan yang dipakai untuk melakukan pengujian.

Data statistik Worldometer hingga Selasa (28/4), Covid-19 di Amerika Serikat telah mencapai 1.010.356 pasien. Sebanyak 56.797 meninggal dunia dan 138.990 pasien dinyatakan sembuh. Hingga kini masih ada 814.569 pasien corona yang tengah menjalani perawatan.

Sebanyak 14.186 di antaranya disebut berada dalam kondisi kritis. Sedangkan data Johns Hopkins University, kasus corona di AS tercatat mencapai 988.197 pasien dengan 56.259 kematian.

Negara bagian New York masih menjadi wilayah dengan kasus corona tertinggi di AS, yakni mencapai 291.996 pasien, dengan 22.668 kematian. Kasus kematian terbanyak terdapat di Kota New York yang mencapai 17.515 jiwa.

Sekitar 30 persen dari kasus meninggal terjadi di negara bagian New York, pusat wabah AS, diikuti New Jersey, Massachusetts, California dan Pennsylvania.

Prediksi Universitas Washington, yang sering dikutip oleh para pejabat di Gedung Putih menguraikan bahwa wabah ini dapat saja merenggut lebih dari 74.000 nyawa di AS hingga 4 Agustus, jika dibandingkan dengan perkiraan pada 22 April ada sekitar 67.600.

Secara global, kasus coronavirus sudah menularkan lebih dari 3 juta orang yang wabahnya berasal dari Cina akhir tahun lalu. AS, dengan populasi terbesar ketiga di dunia, memiliki potensi penyebaran kasus lima kali lebih banyak jika dibandingkan negara-negara lainnya yang memiliki jumlah kasus besar seperti Italia, Spanyol dan Prancis.

Dari 20 negara yang paling parah terkena dampaknya, AS menempati urutan kelima berdasarkan kasus per kapita, menurut penghitungan Reuters. AS memiliki sekitar 30 kasus per 10.000 orang. Spanyol menempati urutan pertama lebih dari 48 kasus per 10.000 orang, diikuti Belgia, Swiss, dan Italia.

Jumlah kematian akibat virus korona AS, yang tertinggi di dunia, sekarang melebihi jumlah total orang Amerika yang terbunuh dalam Perang Korea 1950-1953 sebanyak 36.516.

Jika merujuk dari data Reuters, hingga Selasa, tercatat ada 58.233 telah meninggal karena COVID-19 di Amerika Serikat. Itu artinya melampaui angka selama 12 minggu jumlah total orang Amerika yang meninggal dibandingkan selama 16 tahun keterlibatan militer AS di Vietnam, dengan 58.220 warga Amerika terbunuh selama Perang Vietnam berakhir pada 1975.

Adanya perintah untuk tinggal di rumah yang belum pernah terjadi sebelumnya di AS, dapat menekan angka penyebaran virus meski menghantam perekonomian, yang menyebabkan jumlah orang Amerika mencari tunjangan pengangguran selama lima minggu terakhir melonjak menjadi 26,5 juta.

Puluhan negara saat ini mulai melonggarkan pembatasan tinggal di rumah meski peringatan dari para ahli kesehatan menyebut bahwa tindakan prematur tersebut dapat menyebabkan lonjakan kasus baru.

Survei Reuters /Ipsos bulan ini menyebut bahwa mayoritas warga Amerika bipartisan ingin benar-benar melindungi diri dari serangan virus corona, meskipun telah berdampak pada ekonomi negara. Gatra.com