Launching atau Peluncuran?

Peluncuran laptop terbaru ASUS (ilustrasi)
Peluncuran laptop terbaru ASUS (ilustrasi)

Bangsa yang kehilangan bahasa adalah bangsa yang kehilangan identitas

Jargon di atas menggambarkan bahwa bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat penting sebagai simbol suatu bangsa. Bahasa diibaratkan identitas, jati diri dan denyut nadi suatu bangsa. Begitu pula dunia jurnalistik, bersifat simbiosis mutualisme dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang harus dikuasai dan digunakan oleh para jurnalis. Oleh karena sering diberdayakan, maka bahasa Indonesia juga semakin kuat dan memiliki tempat tersendiri di hati jurnalis.

Namun, pada era masif teknologi dan informasi sekarang ini, penggunaan bahasa Indonesia mengalami sedikit pergeseran. Munculnya berbagai istilah dalam bahasa asing menyebabkan tergerusnya bahasa ibu tercinta kita ini. Terlebih lagi para jurnalis yang berkecimpung meliput berita di dunia bisnis dan ekonomi. Begitu banyak ditemui penggunaan istilah asing yang semestinya mempunyai padanan dan bisa disubstitusi ke dalam bahasa Indonesia.

“ASUS launching netbook terbaru”

Judul seperti di atas menghiasi judul artikel jurnalis. Kebanyakan wartawan menggunakan istilah launching daripada peluncuran (meluncurkan). Padahal, kata asing dapat digunakan sepanjang kata tersebut memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Itu pun harus dijelaskan apa arti kata asing itu agar tidak terjadi kesalahpahaman makna.

Jika diterjemahkan di berbagai  konteks, kata peluncuran atau launching berarti peresmian. Namun, seiring dengan makin banyaknya kata launching, kata peresmian atau meresmikan menjadi tererosi. Para pejabat, wartawan, bahkan orang awam pun kemudian lebih sering menggunakan kata launching  sebagai pengganti kata peluncuran atau peresmian.

Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai hal. Salah paham akan makna kata itu sendiri. Pengguna terkadang merasa lebih keren dan lebih berkelas karena menggunakan bahasa asing. Bisa juga karena pengguna tidak tahu makna sebenarnya dari kata launching. Ini pun berlaku pada kata asing yang lain seperti concern, release, feature dan banyak lainnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa bahasa asing memiliki nilai tambah sendiri bagi si pemakai. Tapi jika pemakaiannya tepat. Misalnya agar lebih efisien dan efektif seperti “Honda memproduksi new Scoopy”. Karena jika padankan dan ditulis dengan bahasa Indonesia menjadi tidak menarik.

Tidak dapat dielakkan lagi bahwa pada era sekarang ini, penguasaan terhadap bahasa asing memang sangat diperlukan. Penguasaan bahasa asing merupakan pintu masuk untuk memasuki masyarakat dunia yang global. Meskipun begitu bangsa Indonesia harus tetap bersikap kritis, karena penggunaan bahasa asing bisa menggerus dan melemahkan penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri.

Begitu pula dalam bahasa jurnalistik. Bahasa yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar serta pilihan kata yang sesuai. Menurut Rosihan Anwar (2004) bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Ia menambahkan bahwa bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.

Oleh sebab itu, penggunaan bahasa asing dalam jurnalistik harus memiliki pakem antara lain bertanggung jawab terhadap pembaca dengan berprinsip, aktif, netral, kreatif, dan update atau pembaharuan dalam mencari, mengolah dan menyampaikan informasi berbentuk berita yang dapat diterima dengan baik. Bentuknya dapat memperkaya kosakata dan istilah bahasa Indonesia. Penggunaan kosakata bahasa asing dapat didasari unsur kesengajaan, sesuai dengan  ciri dan sifat khas bahasa jurnalistik yanga ada.

Seperti yang diketahui bersama, bahwa penggunaan bahasa Indonesia dapat memberikan banyak manfaat. Tidak semua pembaca memahami bahasa asing yang digunakan. Jika jurnalis menggunakan bahasa Indonesia, maka dipastikan semua kalangan dapat mengerti keseluruhan isi artikel yang ditulis. Terlebih lagi jurnalis bisnis, tentunya mengharapkan produk yang ditawarkan dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum. Penyedia produk terbantukan dan masyarakat juga tertolong dalam memperoleh informasi. Jurnalis pun dapat berlega hati.

Maka dari itu, peran jurnalis dalam dunia jurnalistik mampu menguatkan bahasa Indonesia. Jurnalistik merupakan salah satu bagian terpenting yang memuliakan dan mengagungkan bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dari tidak lepasnya pengguna Bahasa Indonesia dalam setiap kesempatan yang berhubungan dengan jurnalistik. Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam dunia jurnalistik merupakan salah satu cara untuk terus menguatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Kembali ke permasalahan penggunaan kata launching tersebut. Di kalangan ibu-ibu yang sedang hamil pun banyak terdengar percakapan bahasa asing digunakan, seperti “Doakan ya… anak saya akan launching akhir bulan ini”. Tentunya ini berdasarkan dari apa yang mereka lihat, baca dan dengar. Terdengar geli dan lucu. Namun karena mereka sering bercengkerama dengan istilah ini, menjadikan percakapan tersebut sebagai hal yang normal saja.

Sudah saatnya para jurnalis berperan aktif dalam menguatkan bahasa Indonesia. Karena tidak bisa disanggah lagi, jurnalis merupakan salah satu garda terdepan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Terlebih pada saat sekarang ini, media online dan media sosial begitu menjamur.

Jadi, para jurnalis mau tidak mau harus bersedia meningkatkan profesionalisme jurnalistik dalam mewartakan suatu berita. Tidak kalah penting yaitu memiliki rasa kebanggaan dan mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia daripada bahasa asing serta menggunakan tata kaidah bahasa Indonesia yang baku terhadap artikel yang dimuat. Bagaimanapun kita tidak ingin kehilangan identitas kita dan tetap melestarikannya, yaitu bahasa Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Sudah siap meluncur kawan?